Sujud Ilmu kepada Ibu: Momen Haru Pengukuhan Empat Guru Besar UIN KHAS Jember
Suasana khidmat pengukuhan empat guru besar Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember mendadak berubah menjadi lautan haru. Di tengah prosesi akademik yang sarat kehormatan, sebuah peristiwa sederhana namun sangat bermakna menggetarkan hati seluruh tamu undangan yang hadir.
Kelompok Paduan Suara UIN KHAS Jember melangkah perlahan ke hadapan empat guru besar yang baru dikukuhkan, menyerahkan karangan bunga sebagai simbol penghormatan atas perjalanan panjang ilmu, pengabdian, dan ketekunan yang telah mereka tempuh. Namun, momen itu tidak berhenti pada seremoni. Justru di situlah makna terdalam pengukuhan itu menemukan wujudnya.
Tanpa aba-aba, satu per satu dari keempat guru besar beranjak dari tempat duduknya. Mereka melangkah menuju sosok-sosok yang selama ini mungkin berada di balik layar gemerlap prestasi akademik: para ibu. Di hadapan ibunda tercinta, keagungan gelar profesor seketika luruh menjadi kerendahan hati seorang anak.
Ada yang bersujud di hadapan ibunya—diam, hening, penuh takzim. Ada pula yang memeluk erat, seakan ingin menumpahkan seluruh rasa syukur, rindu, dan terima kasih yang selama ini tak terucap. Tangis pun pecah, bukan tangis kehilangan, melainkan tangis syukur atas doa yang tak pernah putus.
Salah satu momen paling menyentuh terjadi ketika Prof. Ubaidillah mendekap ibunda beliau dengan penuh cinta, lalu mencium pipi dan keningnya. Sebuah gestur sederhana, namun sarat makna: bahwa setinggi apa pun ilmu dan jabatan, seorang ibu tetaplah pusat pengabdian dan sumber keberkahan.
Pemandangan tersebut menciptakan suasana haru yang menyelimuti seluruh ruangan. Banyak tamu undangan yang menundukkan kepala, menyeka air mata, dan terdiam dalam perenungan. Di hadapan mereka, ilmu tidak tampil sebagai simbol kehebatan, melainkan sebagai buah dari doa seorang ibu yang dipanjatkan dalam sunyi dan kesabaran.
Momen itu seolah menjadi pengingat kolektif bahwa pengukuhan guru besar bukan hanya tentang capaian akademik, melainkan tentang perjalanan panjang yang ditempuh dengan pengorbanan, cinta, dan doa. Bahwa di balik toga, selempang kehormatan, dan gelar prestisius, ada sosok ibu yang setia mengetuk pintu langit.
Di ruang itu, UIN KHAS Jember tidak hanya mengukuhkan empat guru besar. Kampus ini juga meneguhkan satu nilai luhur: ilmu yang beradab lahir dari kasih seorang ibu dan kerendahan hati seorang anak.
Dan siang itu, di antara bunga, pelukan, dan air mata, peradaban terasa begitu dekat—hadir dalam wujud cinta yang paling tulus.



