Ilmu, Kerendahan Hati, Keteladanan, dan Cahaya Peradaban
Sambutan Rektor UIN KHAS Jember pada Pengukuhan Empat Guru Besar dan Peringatan Ulang Tahun ke-57
Dalam suasana akademik yang khidmat, sarat makna dan refleksi, civitas academica Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember menyampaikan ucapan Selamat Ulang Tahun ke-57 kepada
Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM,
Rektor UIN KHAS Jember—seorang pemimpin akademik yang menghadirkan ilmu bukan sekadar sebagai kumpulan pengetahuan, melainkan sebagai jalan keteladanan dan cahaya peradaban.
Dalam sambutannya pada pengukuhan empat guru besar, Prof. Hepni mengajak seluruh sivitas akademika untuk kembali menempatkan ilmu dalam bingkai kerendahan hati. Dengan merefleksikan profil dan orasi ilmiah para profesor yang dikukuhkan, beliau menegaskan bahwa tidak ada keberhasilan yang lahir dari ruang hampa. Setiap capaian intelektual merupakan buah dari keterlibatan banyak pihak—guru, keluarga, sahabat, serta lingkungan akademik yang saling menopang dan menumbuhkan.
Dari kesadaran tersebut, lahirlah sebuah simpulan yang sederhana namun menggugah nurani:
“Kita itu hanyalah, bukan kita itu adalah.”
Sebuah pengakuan eksistensial bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin dalam kesadarannya akan keterbatasan diri. Ilmu sejati tidak melahirkan kesombongan, melainkan menumbuhkan kepekaan, empati, dan tanggung jawab moral.
Prof. Hepni menegaskan bahwa keilmuan harus berfungsi sebagai penjaga kompas akademik. Guru besar dituntut untuk bergerak cepat merespons dinamika zaman, namun tetap searah dengan gerak yang tepat dan berpijak pada kebenaran. Kecepatan tanpa ketepatan, menurut beliau, justru berisiko menjauhkan ilmu dari nilai, hikmah, dan kemaslahatan.
Lebih dari sekadar capaian jabatan akademik tertinggi, guru besar dipandang sebagai penjaga arah peradaban. Mereka dipanggil untuk mengembangkan keilmuan yang berdampak, mencerdaskan generasi melalui keteladanan, serta mengabdikan ilmu dengan kebijaksanaan. Ilmu tidak boleh berhenti di ruang kuliah, seminar, atau jurnal ilmiah, tetapi harus hadir sebagai kekuatan transformatif yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Dengan nada yang penuh kebijaksanaan, Prof. Hepni berpesan:
“Jadilah mercusuar intelektual—yang cahayanya menuntun tanpa menyilaukan.”
Menjadi cendekiawan yang tidak hanya luas ilmunya, tetapi juga luas kasih sayangnya; penebar kebaikan lintas peran, penjaga harmoni sosial, serta penyembuh luka umat di tengah era polarisasi.
Dari nilai-nilai inilah diharapkan tumbuh iklim peradaban di lingkungan UIN KHAS Jember: berseminya karakter, lahirnya embrio keilmuan yang mar?amah, serta menguatnya tradisi akademik yang menjadikan rahmah, hikmah, dan uswah sebagai fondasi kehidupan kampus dan masyarakat.
Pada momentum ulang tahun ke-57 ini, civitas academica UIN KHAS Jember mendoakan semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, keberkahan usia, serta kekuatan lahir dan batin kepada Prof. Dr. H. Hepni dalam mengemban amanah kepemimpinan. Semoga setiap langkah, pemikiran, dan keteladanan beliau menjadi amal jariyah, serta terus menyalakan cahaya ilmu yang menuntun UIN KHAS Jember menuju masa depan yang unggul, beradab, dan berkeadaban.
Selamat Ulang Tahun ke-57, Prof. Hepni.
Teruslah menjadi cahaya yang menuntun—tanpa menyilaukan.
by. WD 3 FEBI



