Gagas Model "Piramida Rahmatan lil-‘Alamin", Prof. Ubaidillah Tawarkan Solusi Dialog Peradaban Global
JEMBER – Dalam orasi pengukuhan jabatan Guru Besarnya, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN KHAS Jember, Prof. Dr. Drs. H. Ubaidillah, M.Ag., menyoroti urgensi peran Islam sebagai arsitektur peradaban multikultural di tengah memanasnya konflik global.
Beliau membedah eskalasi konflik di berbagai belahan dunia, mulai dari krisis Israel-Palestina, Suriah, Yaman, Libanon, hingga ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Menurut Prof. Ubaidillah, rangkaian konflik tersebut menjadi indikator nyata atas inefisiensi proses dialog peradaban yang selama ini berjalan.
Kritik Terhadap Diplomasi Prosedural
Dalam kajiannya, Prof. Ubaidillah mengungkapkan bahwa kegagalan diplomasi internasional seringkali disebabkan oleh pendekatan yang terlalu prosedural dan bersifat netral secara moral. Sebagai solusi, beliau menggagas upaya diplomasi internasional yang lebih menyentuh aspek kultural dan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam.
"Dialog peradaban tidak boleh hanya menjadi formalitas di atas meja perundingan, tetapi harus dilandasi oleh prinsip kasih sayang (ra?mah), keadilan (‘adl), penghormatan martabat manusia (kar?mah ins?niyyah), serta pengakuan terhadap pluralitas identitas," jelasnya.
Model Piramida Rahmatan lil-‘Alamin
Sebagai tawaran konkret, Prof. Ubaidillah memperkenalkan "Pyramid Model of Rahmatan lil-‘Alamin for Civilizational Dialogue". Model ini diartikulasikan dari tadabbur mendalam terhadap Al-Qur'an Surah An-Nahl ayat 125. Beliau membagi proses dialog peradaban menjadi tiga level tahapan yang sistematis:
-
Level Nilai (Bil ?ikmah): Tahap awal yang menekankan pada kebijaksanaan dan landasan filosofis yang kuat.
-
Level Praksis (Mau‘izhah ?asanah): Tahap penerapan melalui edukasi dan penyampaian pesan-pesan yang baik serta menyentuh hati.
-
Level Struktur (J?dilhum Billat? Hiya A?san): Tahap perdebatan atau diskusi yang dilakukan dengan cara terbaik untuk membangun kesepakatan di level struktural/kebijakan.
Gagasan ini diharapkan mampu menjadi fondasi baru bagi perdamaian dunia, di mana Islam hadir sebagai solusi atas kebuntuan diplomasi global dalam mewujudkan tatanan dunia yang lebih harmonis dan multikultural.



