INSIGTH FEBI 2026 Dorong Kolaborasi Akademik untuk Pariwisata Berkelanjutan
JEMBER - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember sukses menggelar Islamic Network for Scientific Inquiry, Growth, and Thinking Together (INSIGTH) FEBI Tahun 2026 secara daring melalui Zoom Meeting, Jumat (13/2/2026), dengan mengusung tema “Sustainability in Tourism Development.”
Kegiatan yang diikuti dosen FEBI, dosen FEB Universitas Triatma Mulya Bali, serta para pemangku kepentingan bidang pariwisata ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat budaya mutu sekaligus merumuskan arah pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Dalam sambutannya, Dekan FEBI menegaskan bahwa INSIGTH merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam membangun continuous quality improvement melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi. Menurutnya, peningkatan mutu tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan jejaring akademik yang kuat agar FEBI mampu meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional.
Senada dengan itu, Ketua Gugus Mutu Fakultas, Dr. Adil Siswanto, SST.Par., M.Par., menekankan pentingnya budaya ilmiah yang kolaboratif sebagai fondasi peningkatan kualitas perguruan tinggi. Ia menyampaikan bahwa mutu institusi saat ini tidak hanya diukur dari pemenuhan standar administratif, tetapi juga dari produktivitas keilmuan, jejaring riset, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.
INSIGTH FEBI 2026 menghadirkan tiga narasumber dengan perspektif berbeda namun saling melengkapi. Materi pertama mengulas implementasi Blue Economy di Bangsring Underwater sebagai upaya peningkatan kualitas lingkungan, ekonomi, dan sosial masyarakat. Materi kedua membahas model pengelolaan destinasi pariwisata regeneratif berbasis masyarakat, sementara materi ketiga mengangkat isu pengelolaan sampah sebagai prasyarat utama terwujudnya pariwisata berkelanjutan di kawasan selatan Bali.
Diskusi yang berlangsung dinamis menegaskan satu benang merah: keberhasilan pariwisata berkelanjutan hanya dapat dicapai jika masyarakat lokal ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan. Peserta sepakat bahwa akses manfaat ekonomi langsung, keterlibatan warga dalam pengelolaan destinasi, serta skema bagi hasil yang transparan merupakan kunci agar pariwisata tidak menciptakan ketimpangan baru.
Pengalaman over tourism di Bali juga menjadi refleksi bersama tentang pentingnya pembatasan kunjungan berbasis daya dukung, pengelolaan sampah dan air yang serius, serta kontribusi sosial yang terukur dari pelaku usaha wisata. Kolaborasi pemerintah daerah, pengelola destinasi, akademisi, dan komunitas lokal dinilai mutlak diperlukan melalui regulasi yang tegas, pengawasan konsisten, dan forum dialog yang inklusif.
Melalui INSIGTH FEBI 2026, FEBI UIN KHAS Jember menegaskan perannya sebagai pusat gagasan dan jejaring akademik yang mendorong lahirnya model pembangunan pariwisata yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga adil secara sosial dan lestari secara lingkungan.



