FEBI Perkuat Budaya Mutu dan Pariwisata Berkelanjutan Melalui Kolaborasi Strategis
JEMBER – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) menyelenggarakan kegiatan Gugus Mutu Fakultas (GMF) sebagai wujud komitmen nyata dalam meningkatkan kualitas tata kelola akademik dan non-akademik. Kegiatan yang berfokus pada penguatan budaya mutu berkelanjutan (continuous quality improvement) ini juga diarahkan sebagai ruang diskusi bagi kebijakan pembangunan ekonomi dan pariwisata.
Sinergi dan Kolaborasi sebagai Kunci Mutu
Dalam arahannya saat membuka rapat, Dekan FEBI menegaskan bahwa peningkatan mutu fakultas tidak dapat dilakukan secara parsial. Menurutnya, diperlukan kolaborasi strategis dengan perguruan tinggi lain untuk memperluas wawasan dan memperkuat jejaring akademik di tingkat nasional maupun internasional.
"Keberlanjutan pariwisata adalah tanggung jawab kita bersama. Melalui kolaborasi ini, kita berharap dapat meningkatkan daya saing institusi secara kolektif," ujar Dekan dalam sambutannya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua GMF FEBI, Dr. Adil Siswanto, SST.Par., M.Par., menekankan bahwa mutu perguruan tinggi saat ini tidak hanya diukur dari aspek administratif semata, tetapi juga dari produktivitas ilmiah dan kontribusi nyata terhadap masyarakat. Beliau memandang kolaborasi antar-institusi sebagai sarana benchmarking dan pertukaran praktik baik (best practices).
Bedah Materi: Dari Ekonomi Biru hingga Pariwisata Regeneratif
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber ahli yang memaparkan materi strategis terkait pengelolaan lingkungan dan pariwisata:
- Dr. Adil Siswanto, SST.Par., M.Par. (Ketua GMF FEBI): Memaparkan materi mengenai "Implementasi Blue Economy Bangsring Underwater untuk Peningkatan Kualitas Lingkungan, Ekonomi, dan Sosial Masyarakat".
- Dr. I Wayan Kartimin, S.S., M.Par. (Universitas Triatma Mulya Bali): Menyampaikan materi tentang "Model Pengelolaan Destinasi Pariwisata Regeneratif Berbasis Masyarakat".
- Dr. I Made Bayu Wisnawa, A.Par., M.M., M.Par. (Universitas Triatma Mulya Bali): Membahas tentang "Pengelolaan Sampah Untuk Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan di Kawasan Selatan Bali".
Diskusi Strategis: Menempatkan Masyarakat sebagai Subjek Utama
Dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif, muncul kesimpulan penting mengenai tata kelola destinasi wisata, khususnya pada objek wisata Bangsring Underwater (BUNDER). Peserta dan pemateri menyepakati bahwa keadilan manfaat pariwisata hanya dapat terwujud jika masyarakat lokal ditempatkan sebagai subjek utama, bukan sekadar pelengkap.
Beberapa poin krusial yang dihasilkan dalam diskusi tersebut meliputi:
- Akses Ekonomi: Memastikan keterlibatan masyarakat dalam lapangan kerja, usaha jasa wisata, dan skema bagi hasil yang transparan.
- Evaluasi Konservasi: Program transplantasi terumbu karang di Bangsring dinilai positif, namun memerlukan monitoring ketat agar tidak rusak oleh aktivitas wisata masif (overtourism).
- Daya Dukung Lingkungan: Mengambil pelajaran dari Bali, pengelola diwajibkan melakukan pembatasan kunjungan berbasis daya dukung lahan serta serius dalam pengelolaan sampah dan air.
- Pemberdayaan Komunitas: Penguatan kapasitas lokal melalui pelatihan keterampilan, dukungan UMKM, dan pengembangan community-based tourism.
Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Wakil Dekan 3 FEBI, Dr. H. Fauzan, S.Pd., M.Si., dengan harapan agar rumusan kebijakan yang dihasilkan dapat memberikan dampak positif bagi institusi dan masyarakat luas.



