Yudisium FEBI UIN KHAS Jember: Kompas Nilai untuk Menyongsong Masa Transisi Kehidupan
Suasana khidmat dan penuh makna mewarnai prosesi Yudisium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember. Momentum ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan ruang refleksi nilai, transisi kehidupan, dan peneguhan arah bagi para calon alumni dalam menapaki fase baru perjalanan hidup.
Dalam sambutannya, Dekan FEBI UIN KHAS Jember, Prof. Ubaidillah, menegaskan pentingnya menjadikan nilai-nilai luhur KH. Achmad Siddiq sebagai fondasi etik dan spiritual dalam kehidupan profesional maupun sosial. Menurutnya, keberhasilan akademik harus berpijak pada integrasi antara iman, ilmu, dan amal, sebagaimana spirit keislaman dan keindonesiaan yang diwariskan oleh KH. Achmad Siddiq.
“Ilmu yang tidak dilandasi iman ibarat kapal tanpa kompas. Iman dan ilmu tanpa amal saleh bagaikan perjalanan tanpa arah dan tujuan,” tegasnya, mengingatkan para yudisi agar tidak terjebak pada pencapaian formal semata.
Sementara itu, Rektor UIN KHAS Jember, KH. Prof. Hepni, dalam sambutan penuhnya makna filosofis, menyampaikan ucapan selamat kepada para yudisi. Ia menyebut yudisium sebagai masa transisi kehidupan, titik peralihan yang mempertemukan perpisahan dan harapan.
“Kita dipisahkan oleh waktu, tetapi dipertemukan oleh rindu,” ungkapnya, menandaskan bahwa ikatan antara kampus dan mahasiswa tidak pernah benar-benar terputus.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga menguraikan enam kompas kehidupan yang dirujuk dari pemikiran klasik Burhanuddin Az-Zarnuzi (Pengarang Kitab Ta'limul Muta'alim), sebagai bekal menghadapi dinamika zaman:
1. Kecerdasan, sebagai modal dasar dalam membaca realitas dan mengambil keputusan.
2. Tekad, yakni semangat dan keberanian untuk menghadapi perubahan.
3. Kesabaran, dengan meneladani Nabi Yusuf dan Nabi Ayyub, seraya mengingatkan bahwa ketidaksabaran dapat berujung pada kekalahan, sebagaimana peristiwa Perang Uhud.
4. Modal dan pengorbanan, sebab tidak ada keberhasilan tanpa kesediaan berkorban.
5. Bimbingan guru, sebagai ikhtiar meminimalisasi kesalahan dalam perjalanan hidup.
6. Manajemen waktu yang proporsional, selaras dengan disiplin dan ritme kehidupan akademik yang telah ditempa selama kuliah.
Keenam prinsip tersebut, menurut Rektor, akan menjadi bekal penting agar para lulusan mampu bertahan (survive) sekaligus berkontribusi secara bermakna di tengah kompleksitas kehidupan modern.
Menutup sambutannya, Rektor menegaskan bahwa para yudisi yang telah resmi menyandang status alumni adalah kepanjangan tangan UIN KHAS Jember di tengah masyarakat.
“Alumni adalah duta kampus. Di pundak kalian, nama besar UIN KHAS Jember dipertaruhkan dan dimuliakan,” pesannya penuh harap.
Yudisium FEBI UIN KHAS Jember pun menjadi lebih dari sekadar pengesahan akademik—ia menjelma sebagai ikrar nilai, kompas moral, dan titik awal pengabdian para sarjana untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan.




.png)