Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “Emerging Trends in Digital Marketing and Financial Consumer Engagement within Islamic Banking” pada Kamis, 4 Juni 2026, bertempat di Aula FEBI Lantai 3. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–15.00 WIB ini dihadiri oleh unsur pimpinan fakultas, panitia, dan mahasiswa. Acara dipandu oleh Dr. Nur Hidayat, M.M. sebagai moderator, sementara Luluk Musfiroh bertugas sebagai notulis.
Kegiatan diawali dengan sambutan sekaligus pembukaan yang disampaikan oleh Wakil Dekan III FEBI, Bapak Fauzan, yang mewakili Dekan FEBI. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa seminar internasional merupakan bagian dari upaya strategis fakultas dalam meningkatkan mutu kelembagaan serta memperkuat proses internasionalisasi akademik. Menurutnya, perkembangan digitalisasi yang semakin pesat perlu diimbangi dengan penguatan nilai-nilai budaya lokal, khususnya dalam pengembangan industri perbankan syariah.
Beliau juga menyoroti pentingnya peningkatan literasi keuangan syariah di tengah masyarakat yang masih banyak memandang perbankan hanya sebagai aktivitas simpan pinjam. Oleh karena itu, kegiatan akademik seperti seminar internasional diharapkan mampu memperluas pemahaman masyarakat mengenai sistem keuangan syariah secara lebih komprehensif. Selain mendukung peningkatan kualitas akademik, kegiatan ini juga diharapkan berkontribusi terhadap pencapaian akreditasi unggul program studi di lingkungan FEBI.
Kepada para mahasiswa, beliau berpesan agar senantiasa aktif mengikuti kegiatan akademik, menjaga etika dan sopan santun, serta memanfaatkan forum ilmiah sebagai sarana memperluas wawasan dan memperoleh pengetahuan dari para narasumber yang kompeten. Acara kemudian dibuka secara resmi melalui pembacaan Surah Al-Fatihah bersama.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Ketua Jurusan, Dr. M.F. Hidayatullah, sebagai bentuk harapan agar seminar berlangsung lancar dan memberikan manfaat bagi seluruh peserta.
Pada sesi pertama, peserta mendapatkan materi dari Bapak Adi Tri Wibowo, Branch Manager Bank Muamalat Cabang Jember, dengan tema “Muamalah di Era Modern.” Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan digitalisasi telah membawa perubahan signifikan terhadap perilaku masyarakat, khususnya dalam sektor keuangan dan perbankan. Kemudahan akses teknologi telah mendorong munculnya pola transaksi yang lebih cepat, praktis, dan efisien, sehingga memengaruhi ekspektasi konsumen terhadap layanan keuangan.
Beliau menjelaskan bahwa Bank Muamalat merupakan pelopor perbankan syariah di Indonesia yang berdiri pada tahun 1991. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar industri keuangan syariah saat ini adalah menciptakan keseimbangan antara peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah agar masyarakat tidak hanya memahami konsepnya, tetapi juga memanfaatkan layanan yang tersedia.
Dalam pembahasan mengenai muamalah, beliau menerangkan bahwa muamalah merupakan aktivitas interaksi ekonomi dan bisnis yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip syariah seperti kehalalan, keadilan, transparansi, dan tidak merugikan salah satu pihak. Perbedaan utama antara bank syariah dan bank konvensional terletak pada penggunaan akad sebagai dasar hubungan dan transaksi. Implementasi muamalah saat ini dapat ditemukan dalam berbagai aktivitas ekonomi digital, mulai dari e-commerce, fintech syariah, investasi syariah, hingga sistem pembayaran digital yang semakin berkembang.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa perilaku konsumen modern tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tetapi juga aspek psikologis dan komunikasi. Perusahaan saat ini tidak sekadar menawarkan produk, melainkan membangun pengalaman, persepsi, emosi, dan kepercayaan pelanggan. Berbagai strategi pemasaran seperti framing, branding, influencer marketing, dan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) sering kali memengaruhi keputusan konsumen tanpa disadari.
Dalam konteks tersebut, komunikasi pemasaran memiliki peran penting dalam membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Menurutnya, keberhasilan sebuah merek tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk yang ditawarkan, tetapi juga oleh kemampuannya membangun citra dan kepercayaan publik melalui strategi komunikasi yang efektif.
Pada akhir sesi, Bapak Adi Tri Wibowo menekankan pentingnya self-branding bagi setiap individu. Ia menjelaskan bahwa identitas diri dapat dibangun melalui penampilan, sikap, konsistensi perilaku, serta penggunaan media sosial secara positif. Menurutnya, lima menit pertama dalam interaksi merupakan momen krusial dalam membentuk kesan awal dan membangun kepercayaan. Kemampuan memahami karakter lawan bicara, membaca bahasa tubuh, dan menyesuaikan pola komunikasi juga menjadi faktor penting dalam membangun hubungan yang efektif.
Sesi kedua menghadirkan Prof. Halimin Herjanto, Ph.D., Associate Professor of Marketing, yang membawakan materi bertajuk “Warisan Para Pendongeng: Memasarkan Islam kepada Dunia.” Dalam pemaparannya, beliau mengajak peserta memahami pentingnya storytelling atau seni bercerita sebagai sarana membangun persepsi, identitas, dan pengaruh dalam masyarakat. Menurutnya, cerita merupakan salah satu bentuk komunikasi paling efektif karena mampu membangun keterhubungan emosional dan membuat pesan lebih mudah diingat.
Prof. Halimin menjelaskan bahwa banyak narasi tentang Islam yang selama ini berkembang di dunia justru dibentuk oleh pihak luar. Akibatnya, berbagai kontribusi dan pencapaian peradaban Islam sering kali kurang dikenal oleh masyarakat global. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya umat Islam untuk mulai membangun dan menyampaikan narasi mereka sendiri secara autentik dan berbasis fakta.
Beliau menegaskan bahwa fakta memang mampu memberikan informasi, tetapi cerita memiliki kekuatan untuk menyentuh emosi dan memengaruhi cara pandang seseorang. Oleh karena itu, storytelling menjadi instrumen penting dalam membangun citra, memperkenalkan identitas, dan menyampaikan pesan yang berkesan kepada masyarakat luas.
Dalam paparannya, Prof. Halimin juga menyoroti kuatnya tradisi bercerita dalam peradaban Islam. Al-Qur’an memuat banyak kisah yang menjadi sumber pembelajaran bagi umat manusia. Selain itu, sejarah Islam juga dipenuhi oleh tokoh-tokoh besar yang memberikan kontribusi penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia.
Sebagai contoh, beliau menyebut nama-nama seperti Ibnu Battuta, Al-Zahrawi, Fatima Al-Fihri, dan Al-Idrisi yang berjasa dalam bidang perjalanan, kedokteran, pendidikan, dan geografi. Namun demikian, banyak generasi saat ini yang belum mengenal kontribusi mereka karena minimnya narasi yang disampaikan mengenai tokoh-tokoh tersebut.
Menurut Prof. Halimin, ketika suatu komunitas tidak mampu menceritakan sejarah dan identitasnya sendiri, maka akan muncul berbagai dampak negatif, seperti hilangnya identitas, menurunnya rasa bangga, dan berkurangnya figur teladan bagi generasi berikutnya. Oleh karena itu, storytelling tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana menjaga identitas dan warisan peradaban.
Beliau juga menekankan bahwa era digital memberikan peluang besar bagi setiap individu untuk menjadi penyampai cerita. Dengan dukungan telepon genggam dan media sosial, seseorang dapat menjangkau audiens global tanpa harus bergantung pada media besar. Menurutnya, keberhasilan berbagai konten yang mengangkat sejarah dan nilai-nilai Islam menunjukkan bahwa masyarakat dunia memiliki ketertarikan terhadap cerita yang autentik, inspiratif, dan relevan.
Dalam konteks dakwah dan pemasaran, Prof. Halimin mengingatkan bahwa niat baik harus didukung oleh kualitas konten yang baik. Kreativitas, kualitas penyajian, dan pemanfaatan teknologi menjadi faktor penting agar pesan yang disampaikan mampu bersaing di tengah derasnya arus informasi global.
Sebagai penutup, beliau menjelaskan bahwa storytelling yang efektif harus dibangun di atas tiga prinsip utama, yaitu shidq (kejujuran), relevansi, dan emosi. Ketiga prinsip tersebut menjadi fondasi penting agar cerita yang disampaikan tetap akurat, dekat dengan realitas masyarakat, serta mampu membangun keterlibatan emosional audiens.
Melalui penyelenggaraan seminar internasional ini, FEBI berharap dapat memperkuat wawasan mahasiswa mengenai perkembangan pemasaran digital, perilaku konsumen keuangan, serta tantangan dan peluang perbankan syariah di era digital. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mendorong generasi muda agar mampu memanfaatkan teknologi digital secara kreatif dalam menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang moderat, inklusif, dan berdaya saing global.