Akademik

In Memoriam Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM. Cinta yang Mengabdi, Pengabdian yang Abadi

19 Jun 2026
Oleh: Admin FEBI
254 Tayangan
In Memoriam  Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM.  Cinta yang Mengabdi, Pengabdian yang Abadi

In Memoriam

Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM.

Cinta yang Mengabdi, Pengabdian yang Abadi

إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Langit Jember terasa berbeda pada Jumat dini hari, 19 Juni 2026. Seakan ada satu cahaya yang perlahan kembali ke asalnya. Keluarga besar Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember berduka mendalam atas wafatnya Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM., pada pukul 00.30 WIB.

Di usia 57 tahun, putra terbaik bangsa yang lahir pada 3 Februari 1969 itu telah menuntaskan perjalanan panjang pengabdiannya. Namun sesungguhnya, ada orang-orang yang kepergiannya tidak pernah benar-benar pergi. Mereka tetap hidup dalam gagasan, keteladanan, doa-doa yang dipanjatkan, serta jejak-jejak kebaikan yang terus tumbuh setelah raganya tiada. Prof. Hepni adalah salah satu di antaranya.

Bagi sivitas akademika UIN KHAS Jember, beliau bukan sekadar rektor. Beliau adalah guru kehidupan. Sosok yang mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang melayani. Bahwa jabatan bukan tempat untuk dihormati, melainkan ruang untuk memberi manfaat. Bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi jalan untuk memuliakan manusia.

Di bawah kepemimpinannya, UIN KHAS Jember terus bergerak maju. Penguatan kualitas akademik, tata kelola kelembagaan, pengembangan sumber daya manusia, hingga perluasan peran kampus dalam menjawab problem sosial masyarakat menjadi bagian dari ikhtiar besar yang beliau perjuangkan. Namun lebih dari itu, yang paling membekas adalah cara beliau memimpin dengan hati.

Beliau dekat dengan mahasiswa, akrab dengan dosen, santun kepada tenaga kependidikan, dan terbuka kepada siapa saja. Kesederhanaannya membuat banyak orang merasa dihargai. Keramahannya membuat banyak orang merasa diterima. Ketulusannya membuat banyak orang merasa dicintai.

Mungkin karena itulah, gagasan yang beliau tuangkan dalam buku Cinta Walaupun Bukan Karena terasa begitu merefleksikan kehidupan yang beliau jalani sendiri. Dalam buku tersebut, Prof. Hepni mengajarkan bahwa cinta sejati tidak lahir karena jabatan, kekuasaan, keuntungan, atau kepentingan. Cinta yang hakiki adalah cinta yang tetap memberi meskipun tidak menerima, tetap setia meskipun tidak dipuji, tetap mengabdi meskipun tidak selalu dipahami. Cinta seperti itulah yang beliau praktikkan sepanjang hidupnya.

Beliau mencintai kampus ini bukan karena kedudukan yang melekat padanya. Beliau mencintai pendidikan karena keyakinannya bahwa ilmu mampu mengubah peradaban. Beliau mencintai mahasiswa bukan karena prestasi yang mereka miliki, melainkan karena potensi yang beliau lihat dalam diri mereka. Beliau mencintai pengabdian bukan karena penghargaan yang akan diterima, tetapi karena pengabdian adalah bagian dari ibadah.

Kini, ketika beliau telah kembali ke hadirat Allah SWT, kita seakan diingatkan kembali pada pesan-pesan yang pernah beliau tuliskan: bahwa cinta yang paling tulus adalah cinta yang tidak bergantung pada alasan-alasan duniawi. Cinta yang tetap hidup bahkan ketika perjumpaan telah berakhir. Cinta yang terus mengalir dalam bentuk doa, kenangan, dan amal jariyah.

Kepergian beliau meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi. Namun pada saat yang sama, beliau meninggalkan warisan yang jauh lebih besar daripada sekadar bangunan, program kerja, atau capaian institusi. Beliau meninggalkan nilai. Beliau meninggalkan keteladanan. Beliau meninggalkan cara pandang tentang bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Banyak mahasiswa mengenang beliau sebagai sosok yang selalu menyalakan harapan. Beliau kerap mendorong generasi muda untuk berani bermimpi, berani belajar, dan berani melampaui keterbatasan diri. Beliau percaya bahwa pendidikan adalah jalan pembebasan, dan setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari perubahan.

Banyak dosen mengenang beliau sebagai pemimpin yang mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum menilai, dan mengayomi tanpa membeda-bedakan. Dalam setiap keputusan, beliau berusaha menempatkan kemaslahatan bersama di atas kepentingan pribadi.

Hari ini, kita kehilangan seorang pemimpin. Kita kehilangan seorang guru. Kita kehilangan seorang sahabat. Kita kehilangan seorang ayah bagi banyak orang.

Namun sesungguhnya, yang wafat hanyalah jasadnya. Nilai-nilai yang beliau tanamkan akan terus hidup. Semangat yang beliau wariskan akan terus berjalan. Doa-doa yang beliau tinggalkan akan terus dipanjatkan.

Sebagaimana cinta yang beliau ajarkan—cinta walaupun bukan karena—maka kecintaan kita kepada beliau pun tidak akan berhenti karena perpisahan ini. Ia akan tetap hidup dalam setiap langkah pengabdian, dalam setiap ruang kelas yang melahirkan ilmu, dalam setiap mahasiswa yang tumbuh menjadi insan yang berakhlak, dan dalam setiap cita-cita besar yang terus diperjuangkan UIN KHAS Jember.

Selamat jalan, Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM.

Terima kasih atas ilmu yang telah engkau ajarkan.

Terima kasih atas keteladanan yang telah engkau wariskan.

Terima kasih atas cinta yang engkau tebarkan tanpa syarat dan tanpa pamrih.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal salehmu, melapangkan alam kuburmu, mengampuni segala khilafmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.

Engkau telah pulang kepada Sang Pemilik Kehidupan, tetapi jejak cintamu akan tetap tinggal dalam ingatan kami.

Al-Fatihah.

Bagikan: